“Politik Brexit” di Laga Inggris vs Belgia

Standard

Banyak orang berpandangan bahwa sepakbola dan politik merupakan dua hal yang tidak boleh dicampuradukan. Namun, faktanya, urusan politik kerap dibawa-bawa ke dalam stadion. Tidak terkecuali di Piala Dunia yang melibatkan banyak negara di seluruh dunia, yang tentu saja masing-masing negara memiliki urusan kepentingan politik luar negeri yang berbeda. Belum lagi, pemain sepakbola sebagai individu maupun suporter  yang juga memiliki pandangan politik yang beragam.

Di Piala Dunia 2018 yang diselenggarakan di Rusia, urusan politik yang dibawa ke lapangan pertandingan sudah memakan korban. Yakni, duo pemain Swiss Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri yang merupakan keturuan Albania Kosovo yang didenda FIFA karena melakukan selebrasi bermuatan politik usai mencetak gol melawan Serbia. Xhaka dan Shaqiri berselebrasi menyilangkan kedua tangan seolah membentuk simbol elang berkepala ganda mirip bendera Albania.

Negara leluhur dua pemain tersebut memang memiliki perseteruan yang akut dengan Serbia berkaitan dengan status kosovo. Orangtua keduanya harus merasakan pahitnya perseteruan itu sebelum bermigrasi ke Swiss (Baca Juga: Sosok Ayah di Balik Selebrasi Xhaka dan Shaqiri). Grup E yang terdiri dari Brazil, Swiss, Serbia dan Kosta Rika memang memiliki tensi politik luar negeri terkait Kosovo. Selain Serbia dan Swiss yang memiliki keturunan Kosovo, Kosta Rika merupakan salah satu negara yang pertama kali yang mengakui Republik Kosovo, sebuah ‘negara’ yang ditolak oleh Serbia.

Nah, isu politik juga erat kaitannya di laga Belgia vs Inggris. Di pertandingan yang berakhir dengan kemenangan Belgia 1 – 0 atas Inggris ini, isu seputar keluarnya Britania Raya – yang terdiri dari Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara – dari Uni Eropa (atau yang dikenal dengan sebutan Brexit, British Exit) sempat mencuat. Sebagai informasi, wilayah Inggris menyumbang persentase yang sangat signifikan atas keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa dalam referendum 2016. (Catatan: mayoritas warga di wilayah Skotlandia dan Irlandia Utara justru memilih agar Britania Raya tetap menjadi bagian dari Uni Eropa).

Lalu, apa hubungannya antara Brexit tersebut dengan Belgia? Salah satu alasan mayoritas warga Britania Raya memilih Brexit adalah ketidaksukaan mereka terhadap perilaku para birokrat elit Uni Eropa di Brussel, ibukota Belgia sekaligus ibukota Eropa, dimana bernaung sejumlah lembaga Uni Eropa, seperti Komisi Eropa, Parlemen Eropa dan sebagainya. Para birokrat elit Uni Eropa yang merupakan wakil negara-negara anggota Uni Eropa dinilai terlalu elitis dan hanya memikirkan keberlangsungan Uni Eropa, tanpa memperhatikan rakyat-rakyat di negara anggotanya. Mereka juga beranggapan bahwa pajak yang mereka hasilkan dari keringat mereka justru digunakan oleh para birokrat elit tersebut di Brussel.

Mayoritas warga Britania Raya (khususnya Inggris) beranggapan bahwa Britania Raya seharusnya berdiri di kakinya sendiri, dan tidak tunduk kepada Brussel. Apalagi, Britania Raya memiliki sejarah panjang sebagai negara yang besar. Memang, tidak semua warga Britania Raya berpandangan seperti itu. Setidaknya ada 48,1 persen warga Britania Raya (atau 46,6 persen warga Inggris) yang memilih untuk tetap bersama Uni Eropa.

Perdebatan yang belum selesai ini kembali muncul jelang laga Inggris vs Belgia. Laga tersebut bahkan disebut “Brexit Derby”. Pemimpin United Kingdom Independence Party (UKIP) Nigel Farage yang dikenal sebagai salah satu pelopor ide Brexit kebakaran jenggot dengan tulisan koleganya asal Inggris, Richard Corbett (anggota Parlemen Eropa). Di blog pribadinya, politisi Partai Buruh yang dikenal sangat kontra dengan Brexit ini justru mengaku akan mendukung Belgia dalam laga antara negaranya dengan Belgia di pertandingan terakhir Grup. Corbett yang mengaku telah mendukung Inggris sejak juara piala dunia 1966 seperti sudah putus asa mendukung kembali negaranya.

Farage, sang ultra nasionalis, menulis dalam fan page facebook pribadinya bahwa “Corbett selalu mendukung sisi lain yang berlawanan dengan Inggris. Dia membenci negara kami.” Farage juga mengkritik bahwa Corbett sebagai intelektual kiri Inggris sepertinya akan merasa lebih malu berdiri berkhitmad mendengarkan “God Save the King” (lagu kebangsaan Inggris), daripada mencuri dari kotak makanan rakyat miskin. Argumen bahwa para birokrat di Brussel hidup dari keringat (pajak) orang-orang Miskin memang kerap disampaikan dalam kampanye Brexit beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, dalam sidang di Parlemen Eropa, Farage yang dikenal sering mengeluarkan pernyataan kontroversial berujar bahwa, “Belgia bukan sebuah bangsa, dia adalah ciptaan artifisial”, di depan Perdana Menteri Belgia. Ia mengatakan bahwa masing-masing wilayah di Belgia berbahasa yang berbeda satu sama lainnya, mereka tidak menyukai satu sama lain, tidak ada stasiun televisi nasional, dan tidak ada surat kabar nasional di Belgia.

Lawan politik Farage di Parlemen Eropa, Guy Verhofstadt membalas komentar Farage tersebut melalui akun twitternya. Pemimpin Fraksi ALDE di Parlemen Uni Eropa yang kini menjadi Coordinator Brexit dari pihak Uni Eropa mengatakan bahwa Farage akan melihat seberapa nyatanya Belgia sebagai suatu negara ketika bermain melawan Inggris di Piala Dunia. Mantan Perdana Menteri Belgia ini yakin bahwa negaranya bisa mengalahkan Inggris. Dan keyakinan ini akhirnya benar-benar terwujud

Verhofstadt dalam fan page facebook-nya juga sempat ‘berkampanye’ tentang multikulturalisme ketika men-share kisah penyerang Belgia Romelu Lukaku dari the Players Tribune. Verhofstadt sangat setuju komentar Lukaku yang menyatakan, “Saya akan memulai kalimat dengan Bahasa Perancis dan mengakhirinya dalam bahasa Belanda, dan saya akan menggunakan sebagian bahasa Spanyol atau Portugis atau Lingala, tergantung dimana lingkungan di Belgia saya berada. Saya seorang warga Belgia. Kita semua adalah warga Belgia. Dan itu yang membuat negara ini keren, kan?”

Lebih lanjut, Verhofstadt mengatakan bahwa semua warga Eropa harus merangkul keberagaman. Keberagaman identitas adalah bagian kita semua, di Belgia dan di semua negara Uni Eropa. Posting-an ini tentu bisa dipahami dapat menyindir para pro-Brexit dari Britania Raya yang dinilai tidak mau berbaur ke dalam Uni Eropa.

Selain itu perdebatan para politisi tentang Brexit dan Uni Eropa yang mengkaitkannya dengan sepakbola, FIFA juga menaruh perhatian yang serius mengenai hal tersebut. FIFA bahkan sudah mewanti-wanti kepada para suporter Tim Tiga Singa untuk tidak meneriakkan chant pro-Brexit dalam laga melawan Belgia. Bila peringatan tersebut dilanggar, maka FA siap-siap untuk menerima sanksi.

Dilansir Express, FIFA khawatir laga terakhir Group G akan memiliki tensi politik yang panas, terkait isu Brexit. Ibukota Belgia, Brussel yang juga dikenal sebagai ibukota Uni Eropa juga menjadi tempat negosiasi brexit antara Britania Raya dan Uni Eropa, agar Britania Raya segera resmi keluar dari organisasi supranasional tersebut. Juru Bicara FIFA memperingatkan suporter agar tidak “menampilkan slogan yang menghina atau berbau politis” atau “mengucapkan kata-kata atau suara yang menghina” selama turnamen.

Kekhawatiran FIFA memang bukan tanpa dasar. Pada Euro 2016 lalu, pendukung Inggris dan Wales sempat meneriakkan “aspirasi” politiknya agar Britania Raya keluar dari Uni Eropa. Para pendukung tersebut berkumpul di taman di Kota Paris, dan bernyanyi-nyanyi, “F**k off Europe, We all voted out.” Ya, mereka menegaskan kembali bahwa mereka semua yang memilih untuk “keluar” dalam referendum Britania Raya terhadap Uni Eropa.

Uniknya, pertandingan antara Inggris versus Belgia dilaksanakan bertepatan dengan rangkaian proses negosiasi Brexit di Brussel. Perdana Menteri Britania Raya Theresa May yang menonton pertandingan tersebut di sela-sela rapat negosiasi dan Farage yang memilih berada di Pub di Brussel bersama pendukung Inggris lainnya boleh jadi kecewa dengan kekalahan Inggris dari Belgia. Namun, yang paling penting dan perlu sama-sama disadari adalah biarkan perdebatan mengenai Brexit berada di ruang rapat negosiasi, bukan di dalam stadion.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.