Penyiksaan dalam Penyidikan: Dari Siyono Hingga Gafgen Case

Standard

 

Dugaan adanya penyiksaan terhadap Siyono –terduga teroris asal Klaten- dalam proses penyelidikan pihak Kepolisian semakin menguat. Tim Forensik Muhammadiyah akhirnya mengungkapkan ada bekas kekerasan di tubuh jenazah Siyono. Dugaannya, bekas penyiksaan diperoleh Siyono ketika masih hidup, saat dia usai diperiksa oleh aparat Densus 88.

Memang, sebelum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, belum bisa disimpulkan bahwa pihak Densus 88 telah melakukan penyiksaan. Namun, desas-desus atau dugaan ke arah sana semakin kuat pasca dibukanya hasil forensik itu. Apalagi, kasus penyiksaan atau intimidasi aparat polisi terhadap tersangka atau bahkan yang masih terduga pelaku tindak pidana seringkali ditemui.

Kasus seperti itu tidak hanya ditemui di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Mendengar kasus Siyono di atas, saya teringat sebuah kasus yang sempat bikin heboh Jerman –bahkan Uni Eropa- pada sekira 2002 lalu. Namanya, kasus Gafgen (Gafgen Case). Kasus ini menjadi bacaan wajib bagi mereka yang mengambil mata kuliah “European Protection of Human Rights” di program European Law. Ini berkaitan dengan hak asasi seseorang untuk tidak mengalami penyiksaan.

Tersangka dalam kasus ini adalah Magnus Gafgen, seorang mahasiswa hukum asal Jerman. Dia menculik seorang anak berusia 11 tahun, berinisial J. Gafgen yang mengenal kakak perempuan J berpura-pura bahwa jaket kakaknya tertinggal di apartemennya. Lalu, Gafgen secara sadis mencekik J hingga tewas.

Lalu, Gafgen meminta tebusan ke orangtua J sambil berpura-pura bahwa J masih hidup. Ketika sedang mengambil tebusan, Gafgen ditangkap polisi. Saat interogasi, polisi terus mendesak Gafgen untuk memberi tahu dimana ia menyembunyikan J. Saat itu, kepolisian beranggapan bahwa J masih hidup. Hingga akhirnya, kekerasan dalam penyidikan pun dilakukan.

Gafgen mengaku disiksa. Dia mengungkapkan bahwa petugas Kepolisian mengancam akan menguncinya di sebuah sel yang berisi dua pria besar berkulit hitam yang siap “memangsanya secara seksual”. Petugas Kepolisian juga disebut beberapa kali memukul dadanya dan sekali membenturkan kepalanya ke dinding. Singkat cerita, Gafgen akhirnya mengaku dimana ia menyembunyikan J, dan J pun ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

Gafgen memang akhirnya divonis seumur hidup atas pembunuhan J. Namun, ia tetap tak terima disiksa oleh pihak Kepolisian. Ia menggugat Kepolisian ke Pengadilan Jerman. Gugatan itu kandas. Gafgen tak mau menyerah. Gugatan baru disiapkan. Kali ini, gugatan diajukan ke Pengadilan HAM Eropa terhadap pemerintah Jerman. Ia berargumen bahwa sikap aparat Kepolisian terhadap dirinya telah melanggar Pasal 3 (larangan terhadap penyiksaan) dan Pasal 6 (hak untuk mendapat proses pengadilan yang adil) di Konvensi HAM Eropa.

Dalam putusannya, Pengadilan HAM Eropa memutuskan bahwa telah terjadi penyiksaan terhadap Gafgen. Pengadilan memutuskan bahwa Jerman bersalah, walau kekerasan dilakukan pada tahap penyidikan untuk menggali informasi tentang korban. Namun, Pengadilan HAM Eropa menyatakan tidak ada pelanggaran terhadap “right to a fair trial”. Akhirnya, berbekal dengan putusan Pengadilan HAM Eropa ini, Gafgen kembali mengajukan gugatan ke Pengadilan Jerman di Frankfurt. Pengadilan memerintahkan Pemerintah Jerman untuk membayar ganti rugi sebesar 3.000 euro (setara dengan Rp 44,5 juta) ke Gafgen.

Kasus Gafgen memang berbeda dengan Siyono. Ketika diperiksa polisi, Gafgen sudah berstatus sebagai tersangka, sedangkan Siyono masih berstatus terduga. Artinya, Siyono diperiksa masih pada tahap penyelidikan (bukan penyidikan), yakni masih mencari ada atau tidaknya tindak pidana. Bahkan, dalam kondisi seperti Gafgen sekalipun, penyiksaan terhadap tersangka tetap tidak diperbolehkan.

Melihat kasus Gafgen, Pengadilan HAM Eropa telah memberi pelajaran berharga, bahwa penyiksaan tidak boleh dilakukan dalam keadaan apapun dan oleh siapapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s